Di tengah dominasi teknologi kecerdasan buatan yang bertumpu pada data Barat, Qatar mengambil langkah berbeda. Pada gelaran MWC25 Doha, para peneliti, inovator, dan pelaku industri menyerukan pentingnya membangun AI yang inklusif, mampu merepresentasikan bahasa Arab serta nilai-nilai budaya kawasan Timur Tengah.
Mengapa Bias Barat dalam AI Menjadi Masalah Serius?
Hari terakhir MWC25 Doha dipenuhi diskusi tentang risiko ketergantungan pada model AI global seperti ChatGPT atau Gemini.
Mohamed Eltabakh, ilmuwan senior di Qatar Computer Research Institute, menekankan bahwa sebagian besar model AI saat ini “dibangun dari sekitar 90% data Barat”, sehingga wajar bila hasilnya membawa bias budaya.
Menurutnya, minimnya konten berbahasa Arab di internet memperburuk keadaan: tanpa intervensi, bahasa Arab dapat semakin tersingkir dalam ekosistem digital modern. Bias ini akhirnya memengaruhi keputusan, sistem rekomendasi, hingga aplikasi sosial yang digunakan masyarakat.
Misi Qatar: Menjaga Bahasa dan Budaya Arab Tetap Hidup di Era AI
Upaya Qatar tidak berhenti pada kritik. Negara ini meluncurkan Fanar, sebuah platform yang dirancang untuk memperkuat posisi bahasa dan budaya Arab dalam pengembangan teknologi. Tujuannya bukan sekadar meningkatkan representasi bahasa Arab di dunia digital, tetapi juga memastikan bahwa AI mampu memahami konteks lokal secara akurat dan etis.
Bagi para peneliti Qatar, isu ini bukan hanya soal teknologi, tetapi soal kedaulatan budaya dan identitas digital.
Inovasi Qatar untuk Masa Depan Teknologi yang Lebih Manusiawi
Pandangan ini sejalan dengan gagasan Dr. Mohammed Al Sada, Direktur Eksekutif Qatar Mobility Innovations Center. Ia menegaskan bahwa negara tidak boleh hanya menjadi konsumen teknologi global.
“Jika kita tidak menciptakan masa depan kita sendiri, kita akan selamanya menjadi pengikut,” tegasnya.
Melalui penelitiannya, Qatar fokus pada:
-
Pengembangan robot tangan lembut untuk menangani objek sensitif,
-
Teknologi human–machine interaction,
-
Dukungan terhadap industri 5.0,
-
Robot kolaboratif yang dapat dipakai oleh UMKM, bukan hanya perusahaan besar.
Pendekatan ini memperlihatkan upaya Qatar membangun teknologi yang bukan hanya canggih, tetapi juga dekat dengan kebutuhan manusia.
AI dalam Aksi: Transformasi E-Commerce Qatar
Contoh implementasi nyata datang dari perusahaan e-commerce Snoonu.
Pendiri Snoonu, Hamad Mubarak Al-Hajri, menjelaskan bagaimana AI dipakai untuk:
-
Mempercepat proses pengiriman,
-
Memperbaiki rekomendasi produk secara cerdas,
-
Mengirim notifikasi berbasis lokasi secara real-time,
-
Meningkatkan efisiensi operasional secara keseluruhan.
Ia menekankan bahwa perusahaan lokal perlu menjadikan AI sebagai pijakan strategis untuk meningkatkan pendapatan dan menurunkan biaya.
MWC25 Doha menunjukkan bahwa diskusi mengenai kecerdasan buatan tidak hanya soal algoritma atau kecepatan komputasi. Ada isu yang jauh lebih besar: kedaulatan bahasa, budaya, dan identitas digital.
Qatar membuktikan bahwa inovasi teknologi dapat berjalan seiring dengan pelestarian nilai-nilai lokal—dan mungkin inilah langkah awal menuju AI yang benar-benar inklusif bagi semua budaya, bukan hanya dominasi satu kawasan saja.









Leave a Reply