Kepercayaan masyarakat Amerika terhadap pendidikan tinggi terus mengalami penurunan. Biaya kuliah yang melambung dan prospek gaji yang tidak sebanding membuat banyak orang mempertanyakan apakah gelar sarjana empat tahun masih layak ditempuh.
Berdasarkan survei NBC News pada November 2021, sebanyak 63% pemilih di AS menganggap gelar sarjana tidak lagi sepadan dengan biayanya angka terendah dalam satu dekade terakhir.
Biaya Selangit, Gaji Tidak Seimbang
Jacob Kennedy, 28 tahun, seorang bartender di Detroit, menjadi salah satu contoh nyata dari kekecewaan tersebut. Menurutnya, pendidikan tetap penting, tetapi tingginya biaya kuliah membuat gelar sarjana kehilangan nilainya. Banyak teman sebayanya yang lulus perguruan tinggi namun hanya bertahan sebentar di pekerjaan kantor sebelum akhirnya kembali bekerja di industri jasa karena gaji tidak cukup untuk membayar utang mahasiswa.
“Kamu bisa saja punya gelar, tapi kalau penghasilan hanya cukup untuk menutup cicilan pinjaman, apa gunanya?” keluh Jacob.
Pandangan Jacob mencerminkan kegelisahan banyak warga Amerika. Mereka menilai bahwa beban utang mahasiswa kini terlalu besar, sementara lulusan sering kali tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan pasar kerja.
Kepercayaan Publik Merosot Drastis
Hanya 33% responden yang masih percaya bahwa gelar sarjana dapat membuka peluang kerja dan pendapatan yang lebih baik. Padahal pada tahun 2013, angka kepercayaannya mencapai 53%. Perubahan drastis ini mengejutkan banyak pengamat.
“Ini perubahan sikap yang mencolok terhadap salah satu pilar utama dalam ‘American Dream’,” ujar Jeff Horwitt dari Hart Research Associates.
Dulu, perguruan tinggi dianggap sebagai tiket emas menuju kehidupan yang lebih baik. Kini, janji tersebut mulai diragukan, bahkan oleh mereka yang sudah memiliki gelar.
Biaya Kuliah Menjadi Penghalang Besar
Meski data Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa lulusan perguruan tinggi masih memiliki peluang pendapatan lebih tinggi, biaya kuliah yang terus naik membuat banyak orang berpikir ulang. Setelah disesuaikan dengan inflasi, biaya kuliah universitas negeri empat tahun telah meningkat dua kali lipat sejak 1995, sementara universitas swasta naik sekitar 75%.
Jessica Burns, 38 tahun, dari Iowa, menilai gelar sarjana kini tidak lebih dari “tiket masuk” untuk wawancara kerja, tanpa memberikan nilai tambah yang signifikan. Ia memilih jalur kuliah di community college untuk menghemat biaya, sementara suaminya masih berjuang membayar pinjaman kuliah dari kampus swasta.
Karena ketidakpastian itu, banyak anak muda kini lebih memilih jalur pendidikan yang lebih praktis dan terjangkau, seperti sekolah kejuruan atau pelatihan teknik.
Josiah Garcia, 24 tahun, dari Virginia, misalnya, memilih kembali sekolah untuk mempelajari teknik setelah bekerja sebagai teknisi listrik. Menurutnya, jalur teknik memberikan prospek pendapatan yang jelas, berbeda dengan jurusan seni. “Banyak teman saya yang mengambil jurusan seni tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Biaya kuliah untuk jurusan non-teknis seharusnya tidak setinggi program STEM,” ujarnya.
Universitas Dinilai Makin Jauh dari Realitas
Horwitt menyimpulkan bahwa banyak perguruan tinggi kini dianggap kehilangan kedekatan dengan masyarakat luas. Mereka dinilai lebih fokus pada kenaikan biaya daripada realitas ekonomi yang dihadapi calon mahasiswa.
“Selama biaya terus meningkat, universitas akan semakin kehilangan relevansi bagi masyarakat,” kata Horwitt.









Leave a Reply