Harga Bitcoin (BTC) pada November 2025 berada di fase yang sangat krusial. Setelah sempat menyentuh puncak US$126.000 pada Oktober lalu, BTC terus merosot hingga bertahan di sekitar US$87.735,56 atau setara ±Rp1.465.008.670 per koin (kurs Rp16.700). Penurunan lebih dari 30% ini menempatkan pasar kripto pada kondisi yang disebut analis sebagai box of despair, zona yang biasanya menandai kapitulasi investor ketika sentimen pasar berada di titik terlemah.
Dalam beberapa minggu terakhir, Bitcoin bahkan sempat turun hingga US$80.000–US$76.000, memperlihatkan tekanan jual yang semakin besar. Wick panjang pada chart harian yang turun mendekati US$78.000 mengingatkan banyak pelaku pasar pada pola panic selling yang terjadi pada Maret 2025.
Tren Teknis: Bitcoin Masih Membentuk Lower High
Menurut analis teknikal Crypto C, struktur harga BTC masih berada dalam pola lower high, yang menunjukkan tren turun tetap dominan. Bitcoin gagal mempertahankan area kunci US$118.000–US$120.000 dan meski sempat memantul ke US$92.000–US$94.000, reli tersebut tidak cukup kuat untuk mengubah arah tren menjadi bullish.
Pasar pun semakin tertekan oleh arus keluar dana ETF dan gelombang likuidasi dari pasar derivatif.
Sentimen Pasar: Fear & Greed Index Turun ke Level 5 Terendah dalam Bertahun-tahun
Menurut laporan 10x Research, sentimen pasar kripto kini jatuh ke angka di bawah 5 poin, level fear paling ekstrem sejak 2021. Ini menandakan pasar berada dalam kondisi ketakutan mendalam.
Indikator yang diperhatikan pelaku pasar:
-
0–20 poin: Ketakutan ekstrem (biasanya mendahului rally)
-
80–100 poin: Keserakahan ekstrem (biasanya mendahului koreksi)
-
Rata-rata indeks sejak 2021–2025 berada di angka 49,18 poin
Meskipun level ketakutan ekstrem sering menjadi sinyal pembentukan dasar harga (bottom), analis memperingatkan bahwa sentimen negatif bukan jaminan tren penurunan akan segera berakhir.
Likuidasi Rp3,45 Triliun: Pasar Derivatif Bersih dari Posisi Long
Data CoinGlass mencatat 117.928 akun trading dilikuidasi dalam 24 jam terakhir, dengan total nilai sekitar US$206,39 juta (±Rp3,45 triliun). Lonjakan likuidasi ini sering terjadi ketika harga menembus level psikologis tertentu dan menyebabkan efek domino di pasar futures.
Sering kali, lonjakan likuidasi besar seperti ini menjadi tanda bahwa harga mendekati dasar lokal.
Arus Keluar ETF Bitcoin Sempat Sentuh Rekor
ETF Bitcoin spot — salah satu faktor utama yang mendorong bull market awal tahun — kini justru menjadi sumber tekanan.
Data SoSoValue menunjukkan:
-
Arus keluar bersih awal November: US$3,55 miliar
-
Hampir menyamai rekor arus keluar Februari 2025: US$3,56 miliar
-
Setelah arus keluar masif Februari, Bitcoin jatuh dari US$100.000 ke US$75.000
Jika pola ini terulang, analis memperkirakan volatilitas masih akan tinggi hingga Desember.
Apakah BTC Sudah di Bottom?
Saat ini Bitcoin diperdagangkan mendekati US$86.500–US$88.000, tetapi sulit mempertahankan area tersebut. Banyak analis melihat kondisi ini sebagai fase akhir dari koreksi besar, namun harga bisa masih bergerak sideways sebelum terjadi pemulihan.
Alasan pasar mungkin segera rebound:
-
Fear & Greed Index pada titik ekstrem
-
Likuidasi besar menandai potensi bottom
-
Historis menunjukkan recovery sering terjadi setelah periode ketakutan ekstrem
Namun, selama tekanan ETF belum mereda dan likuidasi derivatif tetap tinggi, tren bearish jangka pendek masih dominan.
Harga Bitcoin di November 2025 berada pada titik krusial, yaitu sekitar US$87.735 atau Rp1,46 miliar. Penurunan ini dipicu kombinasi sentimen negatif, arus keluar ETF, dan gelombang likuidasi leverage.
Meskipun banyak indikator menunjukkan pasar berada di area bottom, pemulihan memerlukan katalis kuat terutama berkurangnya tekanan ETF dan stabilisasi sentimen makro.
Investor disarankan tetap berhati-hati, menghindari leverage, dan memantau zona US$80.000–US$85.000 sebagai area support kritis.









Leave a Reply